Ponpes Zaid Bin Tsabit Mencetak Para Hafidz dan Hafidzoh Sejak Usia Dini

tafidz quran zaid bin tsabit 10

Ponpes Zaid Bin Tsabit Mencetak Para Hafidz dan Hafidzoh Sejak Usia Dini

Pondok Pesantren Zid Bin Sabit, Bekasi, merupakan Pompes gratis. Yang di dirikan untuk mewujudkan cita-cita anak-anak yatim dan dhuafa dalam meraih sukses dunia dan akhirat.

Pada zaman seperti saat ini, melihat sebuah hal yang gratis (bebas biaya) telah menjadi sebuah barang langkah. Apalagi jika hal tersebut di tujukan pada hal-hal yang positif dan berdampak besar bagi kehidupan ber masyarakat di masa mendatang.

Pompes Zaid Bin Tsabit yang ber alamat di Kp. Cisaat Rt. 15 Rw. 01 Ds. Kertarahayu Kec. Setu Kab. Bekasi ini di dirikan oleh Bapak Sarno S.Pd.I (45), di atas tanah waqaf dari dia sendiri dengan luas 2000 M2 yang kini tengah berdiri sebuah masjid dan beberapa bangunan lain yang di fungsikan sebagai ruang belajar dan tempat istirahat para santri.

Memang tidak mudah untuk menemukan lokasi Ponpes Zaid Bin Tsabit berada, karena tempatnya terletak di salah satu wilayah pedalaman di Kab. Bekasi, sehingga dari fasilitas pendukung seperti jalan masih terlihat minim kualitasnya. Berdasarkan keterangan pak Sarno sendiri saat di temui Posmo di selang-selang waktu dia mengajar para santrinya, di dirikanya pesantren ini sebagai jawaban atas banyaknya keluhan masyarakat sekitar yang tidak mampu meng sekolahkan anak nya karena tingginya biaya yang di tetapkan oleh pihak sekolah, “anak saya sendiri dulu juga pernah di tolak masuk sekolah bagus karena persoalan biaya” ujarnya.

Setelah kejadian tersebut pak Sarno memutuskan untuk berjuang, baik dengan fisik, finansial, doa dan ikhtiar untuk membantu anak-anak yang nasibnya kurang beruntung dalam pendidikan. Sehingga untuk santrinya, Pompes Zaid Bin Tsabit di khususkan bagi anak-anak yatim dan dhuafa, hal ini di lakukan sebagai bentuk pengamalan atas perintah Allah SWT yang terdapat dalam surat Al-Ma’un ayat 1-7, “ segala sesuatu yang kita lakukan kan harus memiliki dasar, dan dasar saya sepenuhnya adalah Al-Qur’an” imbuhnya.

Pak Sarno yang merupakan lulusan dari Universitas Islam Imam Muhamad Ibnu Soud Jakarta (cabang Riad, Saudi Arabiah) menjelaskan, sebelumnya dia dan sang istri (Rahma Zulaikha) adalah seorang guru dengan penghasilan yang hanya cukup untuk memnui kebutuhan pribadinya. Dengan niat dan tekat yang kuat, dia dan istri memutuskan keluar dan membuka pengobatan herbal, “saat itu masih di Tambun, di Mangun Jaya 2, tahun 2008” tambahnya.

Pengobatan herbal ini lah yang menjadi tulang punggung untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung tersebut, yang awalnya hanya berjumlah 3 anak, kemudian terus berkembang hingga 50 orang anak, “dulu saya di Tambun ngontrak 6 rumah untuk tempat tinggal anak-anak” katanya. Dengan prinsip segala niat baik pasti akan selalu menndapat jalan dari Allah SWT, pada akhirnya dia mampu membeli sebidang tanah dengan luas 3100 M2, dengan rincian 2000 M2 di waqaf kan untuk Pondok Pesantren dan 1100 M2 untuk keluarga besarnya, “seluruhnya satu wilayah, ya di sekitar sini” ujar bapak dari Salakhudin ini.

Dan akhir nya pada tahun 2010 semua anak didiknya di pindahkan ke tempat baru, dengan pembangunan dengan fasilitas yang memang masih serba minim,”ya lebih minim dari yang mas lihat sekarang ini” ujarnya.

Antara Pendidikan Agama, Formal dan Wirausaha
Sementara itu perihal ilmu yang di ajarkan di Ponpes Zaid Bin Tsabit, pak Sarno menjelaskan, bahwa penguasaan ilmu agama tetap menjadi tujuan utama. Dengan konsep Ponpes Salafiyah dengan menginduk langsung di bawah arahan departemen agama,

Ponpes Zaid Bin Tsabit mewajibkan para santrinya untuk menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an dari usia sedini mungkin. Dan hal tersebut terlihat sangat efektif saat Posmo melihat proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang pada saat itu di pimpin langsung oleh pak Sarno, “anak-anak setingkat SMA hari ini sedang di undang ke jakarta untuk mengisi beberapa pengajian” imbuhnya.

Dengan awal pembelajaran yang di mulai sejak dini, bukan hal yang mustahil jika dalam usia yang masih belasan tahun, para santri di Ponpes Zaid Bin Tsabit ini beberapa telah mampu menghafal Al-Qur’an sampai khatam. Sedangkan untuk penggunaan kitab-kitab lain dan bahasa arab yang di gunakan dalam keseharian, pak Sarno menggunakan kitab-kitab berstandard langsung dari Madinah, Saudi Arabiah.

Selain itu, pendidikan formal tetap di ajarkan sebagai penyeimbang dari pendidikan agama yang sudah di ajarkan. Namun pada pendidikan formal, hanya mata pelajaran yang masuk dalam Ujian Akhir Nasional (UAN) dan Ujian Akhir Sekolah (UAS) yang di ajarkan, “karena kita hanya mengikutkan mereka pada ujian paket untuk mendapat ijazah sekolah formal” terang Pak Sarno. Hal ini di lakukan karena pihak pesantren sadar bahwa kepemilikan ijazah formal adalah syarat utama untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, “setelah keluar dari sini, para santri banyak yang ingin melanjutkan ke jenjang kuliah, jadi keberdaan ijazah formal memang wajib” tambahnya.

Pak Sarno menambahkan kembali, selain 2 (dua) hal di atas, para santri juga di ajarkan untuk berwirausaha, yakni dengan belajar pengobatan herbal, bercocok tanam, beternak dll. Dan beberapa wirausaha yang di khususkan bagi santriwati, yakni menjahit dan tataboga, “kita berharap dengan bekal wirausaha yang di berikan di sini, kelak dapat di mangfaatkan untuk membantu diri sendiri dan orang lain, sehingga tidak mala menyusahkan orang lain” harapan pak Sarno.

Sampai saat ini, santri Ponpes Zaid Bin Tsabit berjumlah 45 anak, dengan rincian santri laki-laki 19 anak dan santri perempuan 26 anak, dengan kisaran usia antara 4 sampai 17 tahun. Sementara itu dari segi prestasi, 2 anak santri Ponpes Zaid Bin Tsabit mampu mendapat beasiswa setingkat SMP dan SMA di Mesir dan Sudan, “mungkin dalam waktu dekat ini, 1 di antara keduanya akan pulang ke indonesia, dan saya meminta untuk mengapdi di sini dalam kurun waktu yang belum di tentukan” imbuh Pak Sarno.

Syarat Masuk Bisa Membaca Al-Qur’an
Dalam kurun waktu sekitar 4 (empat) tahun, nama Ponpes Zaid Bin Tsabit terus berkembang di kalangan masyarakat luar. Baik dengan status ponpes gratisnya maupun dari prestasi yang telah di tunjukan oleh para santrinya.

Hal tersebut dapat di lihat dari teruus meningkatnya para orang tua yang ingin menempatkan anak-anak nya untuk memperdalam ilmu agama di ponpes ini, “tahun kemarren saja, jumlah anak yang hendak di masukan ke sini sampai 115 orang, tapi kita cuman mampu menampung 15 orang” ujar Pak Sarno.

Memang dengan fasilitas yang di miliki oleh Ponpes Zaid Bin Tsabit yang terbilang minim, daya tampung yang di miliki nya pun minim. Melihat antusias masyarakat yang besar, pihak Ponpes Zaid Bin Tsabit pun memperlakukan penyaringan secara ketat dengan beberapa syarat, di antaranya usia, tingkat ekonomi, dan pengetahuan agamanya, “paling tidak bisa membaca Al-Qur’an, selain itu dalam pendidikan formal harus memiliki nilai rata-rata tapi ada beberapa hal yang membuat penyaringan itu tidak berlaku, misalkan bagi balita-balita anak jalanan” imbuhnya.

http://vanzezablog.blogspot.co.id/2013/08/pondok-pesantren-gratis-zaid-bin-tsabit.html

Posted in Uncategorized | Tagged | 2 Comments

2 Responses to Ponpes Zaid Bin Tsabit Mencetak Para Hafidz dan Hafidzoh Sejak Usia Dini

  1. eko says:

    Alhamdulillahi Robbil ‘Aalamiin. Semoga pesantren ini senantiasa diberikan kemudahan dalam istiqomah dan selalu dalam ridho’ Allah swt.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *